Sunday, December 22, 2013

Mendekatkan Diri Dengan Anak Lewat Social Media



Pergaulan sekarang memang berbeda dengan zaman ketika aku muda dulu. Zaman aku remaja di tahun 90-an, mana ada yang namanya internet dan social media? Pergaulan paling mentok di sekolah sendiri atau sekolah tetangga saja. Arus informasi juga cuma didapat dari koran, majalah, dan TV. Informasi yang didapat juga tidak secepat dan semudah jaman sekarang. Kalau jaman sekarang, komunikasi lancar, informasi cepat didapat.


Cepat dan mudahnya arus informasi memang punya banyak efek positif. Tapi, efek negatifnya juga nggak boleh didiamkan, lho. Terutama bagi orang tua seperti aku yang punya anak beranjak remaja yang mulai penasaran dengan yang namanya social media. Mau melarang anak gabung di social media seperti Facebook dan Twitter sulit. Tapi kalau tidak dilarang dan dibebaskan, anak jadi bisa menerima segala jenis informasi baik buruk maupun baik. Contoh paling gampangnya: pornografi. Coba kamu liat kolom sebelah kanan saat kamu membuka laman linimasa Facebook, deh. Fitur recommended pages kadang justru menampilkan profil yang ‘gak beres’. Kalau anak kita yang di bawah umur jadi penasaran dan iseng meng-klik profil yang cenderung esek-esek ‘kan serem? Belum lagi kalau ada orang asing yang berniat jahat mengajak berkenalan dengan anak melalui social media. Duh.. nggak kebayang, deh!

Sebenarnya pada dasarnya setiap social media memiliki batasan umur tertentu yang harus dipatuhi, misalnya Facebook yang mewajibkan penggunanya untuk berumur minimal 18 tahun. Tapi peraturan seolah dibuat untuk dilanggar, karena pada kenyataannya banyak juga pengguna Facebook yang belum cukup umur, padahal mereka masih belum bisa memilah antara baik dan buruk. Jadi apakah orang tua harus melarang anak ber-social media?

Ternyata bila anak sudah cukup umur, tidak ada salahnya dia memiliki akun social media. Toh remaja pun harus bisa mengikuti perkembangan dunia. Tapi tentu saja orang tua harus mampu jadi ‘pagar’ bagi anaknya. Jadi, jangan ragu untuk ‘berteman’ dengan anak kamu di social media. Yup! Orang tua pun harus belajar ber-social media. Bagusnya, ‘berteman’ dengan anak di social media pun membantu mendekatkan hubungan kamu dengan anak, lho.

Hal yang sering dikhawatirkan orang-orang kalau social media menjauhkan yang dekat itu ternyata tidak terbukti. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sarah Coyne dan Laura Padilla-Walker dari Brigham Young University, remaja yang ‘berteman’ dengan orang tua mereka di social media merasa lebih dekat dengan orang tua mereka di kehidupan nyata. Penelitian ini juga menemukan bahwa remaja yang berinteraksi dengan orang tua mereka di social media cenderung memiliki perilaku sosial yang lebih baik, misalnya lebih suka membantu dan ramah pada orang lain.

 
Lalu seperti apakah contoh interaksi orang tua dan anak remaja mereka di social media? Bisa saja seperti ini: Ketika anak meng-upload foto mereka, orang tua bisa memberikan apresiasi berupa ‘like’ atau komentar di foto tersebut. Hal yang sama juga bisa orang tua lakukan pada status update sang anak remaja. Dengan cara ini, social media menjadi salah satu cara untuk menunjukkan apresiasi dan kasih sayang orang tua pada anak.

Tapi seperti hal lainnya, social media juga harus digunakan dengan bijak. Orang tua harus bisa meminta anak untuk mengatur privacy setting akun social media mereka, sehingga tidak sembarang orang bisa melihat informasi pribadi anak. Selain itu, social media pun bisa digunakan orang tua untuk memantau aktivitas anak. Misalnya saja, pergaulan anak, hal-hal yang disukai anak, dll. 

Begitu pula ketika anak-anak kita sudah mengenal online shopping. Mereka juga gak boleh sembarangan dibebaskan begitu saja, tapi juga jangan terlalu diberi pengawasan yang ketat.

Bagaimana cara memantau ‘barang belanjaan’ anak sekaligus mencegah over spending pembelanjaan oleh anak? Caranya, buat keanggotaan online shopping di e-commerce seperti www.tokoon.com menggunakan alamat email serta nama orang tua. Jangan langsung memberi mereka kartu kredit untuk berbelanja sendiri. 
Situs seperti TokoOn ini memiliki banyak pilihan produk. Jadi ketika anak berbelanja dengan user name orang tua, konfirmasi pembelian akan dikirimkan terlebih dahulu ke email orang tua sebelum proses pembayaran. Orang tua pun bisa mengontrol barang-barang yang dibeli anak serta jumlah pembelanjaan.
Melarang anak untuk ber-social media dan ber-internet sebenarnya tidak bisa membantu banyak. Kalau anak malah jadi membuka akun social media secara diam-diam, orang tua malah jadi tidak bisa memantau anak. Akhirnya, orang tua malah tidak bisa menghalau efek negatif social media pada anak. Seperti yang aku bilang tadi, yang penting adalah pemakaian secara bijak!


Sumber:

1 comment: